Industri film Indonesia telah menderita selama beberapa dekade karena sensor yang berlebihan, kurangnya dana, dan kurangnya eksposur di luar negeri. Namun, berkat gelombang bakat baru, film-film negara itu mulai muncul di layar internasional dan mengesankan di festival-festival di seluruh dunia.

Sejarah perfilman Indonesia

Film buatan dalam negeri pertama di Indonesia (kemudian dikenal sebagai Hindia Belanda) adalah Loetoeng Kasaroeng, sebuah film bisu yang memulai debutnya pada tahun 1926. Ini diikuti oleh produksi 21 film (diam dan suara) antara tahun 1926-1931. Industri ini tumbuh cepat; 41 film dirilis pada tahun 1941, kebanyakan film percintaan yang dipadukan dengan musik dan seni bela diri.

Dengan Darah dan Doa (1950), Indonesia memiliki film pertama yang diproduksi oleh rumah produksi Indonesia Perusahaan Film Nasional (Perfini). Ditulis dan disutradarai oleh sutradara Indonesia Usmar Ismail, film ini sering dianggap sebagai film fitur nasional pertama di Indonesia. Festival Film Indonesia (FFI) pertama kali diadakan pada tahun 1954.

Memasuki Orde Baru

Dengan pemerintahan Orde Baru (Orde Baru) antara tahun 1965-1998, sensor yang ketat di bawah kediktatoran Presiden Suharto membuat industri film atau judi bola yang terus berkembang. Pemerintah percaya bahwa perfilman Indonesia seharusnya hanya memutar film yang dapat menawarkan tujuan pendidikan dan budaya.

Pada akhir 60-an dan awal 70-an, sensor pemerintah terhadap film-film nasional sedikit melonggar, yang mengarah pada produksi film-film erotis seperti Djampang Mentjari Naga Hitam (1968) dan Bernafas Dalam Lumpur (1970). Tetapi pada akhir tahun 1972, penyensoran yang ketat kembali, menindak keras industri film, terutama dalam hal produksi yang menggambarkan konten seksual.

Tahun 1980-an melihat kebangkitan industri film Indonesia, dengan 721 judul dibuat dalam dekade ini. Sayangnya, banyak dari mereka dengan cepat dan murah menghasilkan rip-off dari film aksi, romansa, dan horor yang lebih baik. Namun industri ini masih berhasil menghasilkan permata oleh sutradara legendaris Indonesia seperti Teguh Karya, Arifin C.

Noer dan Sjuman Djaya. Tjoet Nja’ Dhien (1988) karya Eros Djarot adalah film Indonesia pertama yang masuk kategori feature di Cannes 1989. Salah satu film yang paling sukses di dalam negeri adalah film propaganda Pengkhianatan G-30-S PKI (1984) dari Arifin C. Noer yang diperintahkan pemerintah harus diputar di televisi nasional setiap tahun.

Berjuang melewati tahun 90-an

Akibat maraknya film impor, munculnya stasiun televisi swasta yang memproduksi sinetron murah, sensor pemerintah, dan biaya produksi yang tinggi, industri perfilman Indonesia terhenti di tahun 90-an. Hanya 33 film yang diproduksi pada tahun 1996, turun menjadi hanya tujuh film pada tahun 1999. Kurangnya kualitas maupun kuantitas film Indonesia pada tahun 1990-an menyebabkan FFI dihentikan.

Terlepas dari itu semua, sutradara Garin Nugroho terus memutar film-filmnya dan memenangkan penghargaan di festival film internasional bergengsi. Meraih penghargaan seperti Sutradara Muda Terbaik di Festival Film Internasional Asia Pasifik dan Penghargaan Juri Pembuat Film Muda di Festival Film Berlin, ia menjadi salah satu dari sedikit kisah sukses film Indonesia era ini.